Arsip Berita



Profesi Sales di Mata Fresh Graduate

Profesi Sales di Mata Fresh Graduate

Kita tahu, seorang sales merupakan ujung tombak perusahaan. Namun, mengapa banyak perusahaan masih kesulitan merekrut tenaga sales. Apa penyebabnya?

Rino Renaldi (19), mahasiswa Universitas Bina Nusantara (UBiNus) International jurusan Sistem Informasi, mengaku pernah menjadi sales di PT Excelcomindo Pratama (XL). Saat itu ia ditugaskan untuk mempromosikan kartu telepon XL prabayar. Menurutnya, pekerjaan sebagai sales tantangannya berat. “Harus memiliki mental baja,” katanya menandaskan. Rino mengakui, seorang sales dituntut memiliki keberanian untuk menawarkan satu produk kepada calon klien. Seorang sales tentu berharap produk yang ditawarkannya akan dibeli oleh orang lain.

Selain Rino, mahasiswi Universitas Moestopo Octia Sabadini (20) mengungkapkan, pernah menjadi sales di sebuah event yang diselenggarakan perusahaan rokok PT Djarum. Mahasiswi jurusan Hubungan Masyarakat (Humas) ini mengatakan, dirinya berminat melamar pekerjaan sebagai sales lantaran bisa menambah pengalaman kerja. Keduanya, Rino dan Octia, berharap perusahaan dapat memberi gaji tinggi dan program pelatihan secara rutin untuk meningkatkan motivasi. “Saya ingin menjadi Head of Sales, yang kemudian bisa memberikan pelatihan berkualitas,” ucap Rino penuh harap.

Akan tetapi, di sisi lain, banyak orang seusia Rino dan Octia yang tidak berminat menjadi sales. Hal ini terungkap dari temuan survei HC yang dilakukan Mei lalu. Dalam survei ini salah satu pertanyaan yang kami ajukan adalah: apakah Anda berminat melamar pekerjaan sebagai sales? Ternyata, 80% responden menyatakan tidak berminat menjadi sales. Alasan mereka bervariasi. Ada yang berpendapat bahwa profesi sales melelahkan, perlu kerja keras, dan banyak target. Sisanya 20% berminat melamar pekerjaan sales lantaran mengharap insentif besar dan tertarik dengan tantangannya.

Survei yang kami lakukan ini diikuti oleh 30 responden mahasiswa dari berbagai universitas di Jakarta. Latar belakang jurusan kuliah mereka beragam, antara lain dari marketing (40%), komunikasi (27%), hubungan masyarakat (13,3%), sistem informasi (6,7%), akuntansi (6,7%), keuangan (3,3%), dan komputer (3,3%). Dilihat dari jenis kelaminnya, mahasiswa perempuan (76,7%) dan laki-laki (23,3%). Rata-rata responden yang kami temui berusia 20 tahun.

Dalam survei ini ditemukan fakta bahwa sebagian besar dari mereka mengaku belum pernah menjalani pekerjaan sales. Alasan yang mereka kemukakan, antara lain: sales adalah pekerjaan rendah, belum tertarik, dan masih sibuk dengan kuliah. Ketika ditanya, apa yang Anda harapkan dari perusahaan jika bekerja sebagai sales? Jawabannya, 57% mahasiswa ingin diberi kompensasi dan benefit yang kompetitif; 50% berharap diberi gaji tinggi; dan 20% lainnya ingin memperoleh program pelatihan dan pengembangan secara rutin .

Pertanyaan berikutnya: karier apa yang menurut Anda bisa dikembangkan dari profesi sales? Sebagian besar responden menjawab ingin menjadi Direktur Sales dan Manajer Sales. Bahkan, ada yang ingin menjadi pemilik usaha. Pertanyaan ini sengaja kami ajukan secara terbuka dengan tujuan untuk mendapatkan jawaban sejujurnya dari para mahasiswa.

Mengenai ekspektasi gaji yang diharapkan jika mereka menjadi sales, jawabannya adalah sebagai berikut: 56,7% responden mengharapkan gaji sekitar Rp 1-2 juta per bulan; 26,7% menyebut angka berkisar Rp 2,5-3 juta per bulan, dan 16,7% mengangankan gaji lebih dari Rp 3 juta per bulan.

Sehubungan dengan pertanyaan tersebut, Joshua, mahasiswa jurusan Marketing UBiNus International dengan yakin mengatakan, “Saya tidak mengharapkan gaji tinggi, tapi lebih baik mendapat insentif besar dari hasil penjualan. Sebab, ini bisa memacu motivasi seorang sales.” Tentang harapan seorang sales yang menginginkan insentif besar, Widyarso R. selaku konsultan dan pengajar marketing di PPM Manajemen menganalogikannya seperti memancing tikus dengan memasang keju. Artinya, insentif adalah kata kunci untuk bisa menarik talenta terbaik di bidang sales. Menurut Widyarso, seseorang dengan talenta sales umumnya senang dengan tantangan dan risiko yang berkorelasi positif dengan nilai finansial yang didapat. “Jarang kita bisa berharap prestasi penjualan dari orang-orang yang tidak berorientasi pada aspek finansial untuk dirinya sendiri,” katanya.

Di tempat lain, Amalia E. Maulana, Direktur Etnomark Consulting (jasa konsultan ethnography marketing solutions) mengatakan, pemberian insentif yang kompetitif dapat mempertahankan seorang sales di perusahaan. Selain itu, katanya, memberikan pelatihan dalam bentuk hard skills dan soft skills juga akan menambah keyakinan karyawan di bagian sales bahwa mereka menempati posisi penting di perusahaan. “Bukan hanya sebagai cash generator, tetapi juga penting dari segi manajemen dan kontribusinya untuk kelangsungan perusahaan,” ungkapnya memastikan.

Dijelaskan Amalia, tugas seorang salesman adalah menerjemahkan marketing plan (perencanaan pemasaran) yang telah disusun oleh rekan-rekannya di bagian brand management menjadi sebuah sales plan (perencanaan penjualan) yang baik. Kemudian, jika brand manager memberikan landasan untuk mencapai tujuan pemasaran brand, seorang sales manager akan mencari cara di lapangan untuk mewujudkan penjualan yang konkret. “Karena itu ukuran keberhasilan salesman dikaitkan dengan besarnya volume atau unit yang terjual, berapa uang yang masuk, dan distribusi atau penyebaran produk di pasar,” papar Amalia.

Sementara itu, mengenai fenomena para fresh graduate yang kurang meminati profesi sales, Widyarso mengungkapkan, sebagian masyarakat masih berpandangan bahwa profesi sales cenderung negatif. “Terjadi generalisasi oleh masyarakat yang mungkin pernah mendapat pengalaman kurang menyenangkan saat berinteraksi dengan petugas sales. Akhirnya, petugas sales sering dikonotasikan sebagai pengganggu kenyamanan,” ujarnya memberi alasan. Menurutnya, stigma itu yang menjadi salah satu sebab kurangnya minat dan rasa bangga seorang fresh graduate terhadap profesi sales.

Amalia mengatakan hal senada. Umumnya masyarakat beranggapan bahwa salesman itu adalah seseorang yang datang kepada prospek (klien), lalu memaksa agar produknya laku terjual. Meskipun transaksi itu terjadi, klien terkadang merasa kurang nyaman dengan pendekatan yang dilakukan oleh sales dengan cara konvensional. Peraih gelar PhD dari Universitas New South Wales, Australia ini mengakui, banyak yang mempersepsikan sales sebagai pekerjaan sulit.

Upaya apa yang sebaiknya dilakukan perusahaan agar mendapatkan karyawan sales yang produktif dan andal? Menurut Amalia, seseorang yang memiliki jiwa ‘menjual’ atau tidak bisa dideteksi dari kegiatan keseharian. Misalnya, untuk tingkat fresh graduate, bisa dilihat apakah mahasiswa tersebut memiliki pergaulan luas atau tidak dari aktivitasnya di kampus. “Kalau orang itu aktif di berbagai kegiatan kampus dan bila ada event dia sering mencari dana ke sponsorship atau menjaga counter cinderamata, besar kemungkinan dia punya bakat sebagai sales,” katanya mencontohkan.

Widyarso menambahkan, perilaku adalah faktor penting yang bisa diandalkan dalam menilai seorang calon sales yang produktif. Selain itu, ada faktor lain yang perlu dipertimbangkan, di antaranya pengalaman kerja dan latar belakang pendidikan. “Kedua faktor ini menjadi kriteria kondisional untuk menyesuaikan dengan kecanggihan produk yang dijual dan komunitas klien yang digarap,” ujarnya. Misalnya, untuk produk farmasi, software, atau alat berat akan lebih mudah bagi seorang sales yang memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai.

Menurut Amalia, pengalaman kerja akan lebih membantu menempatkan seseorang menjadi salesman yang andal dibandingkan latar belakang pendidikan. “Dengan pengalaman kerja, seseorang sudah lebih mengenal medan pertempuran. Mengerti bagaimana tingkat kesulitan di lapangan, mencari celah untuk bisa menembus hambatan yang selalu akan diajukan oleh prospek,” ungkap mantan Head of MM Strategic Marketing Binus Business School.

Peningkatan kompetensi seorang sales, tidak lepas pula dari program pelatihan dan pengembangan yang diberikan perusahaan. “Training yang saya berikan kepada tim sales adalah pelatihan dalam grup gabungan dengan karyawan dari bagian marketing dan R&D. Selain diberikan wawasan tentang consumer insights, dalam pelatihan tersebut saya meminta mereka untuk terjun ke lapangan dan melakukan exercise langsung dalam bentuk mini-project,” kata Amalia menjelaskan. Ia menilai, hasil dari training antar-divisi ini sangat membantu meningkatkan team work sambil sekaligus memberikan alat atau cara agar lebih mengenal konsumen dengan baik.

Bagi Widyarso, yang tidak kalah penting adalah memberikan akses untuk melakukan networking. Kesempatan ini menurutnya sangat mendasar. Meski memiliki kompetensi yang cukup, jika lingkungan atau budaya perusahaan mengungkung akses mereka, akan berakibat pada efektivitas kompetensi seorang sales. Misalnya, jika seorang sales karena lingkungan kliennya hanya bisa efektif ditemui di lapangan golf, gym, atau cafe, tetapi perusahaan tidak memberikan akses atau dana untuk ke tempat-tempat tersebut, maka kompetensi sales yang dibangun akan kurang efektif dalam implementasinya. Karena itu, perusahaan wajib memberi dukungan yang dibutuhkan oleh seorang sales untuk berkembang dan mencapai targetnya.



Updated 20 Juli 2011 11:32


Share ›      Facebook Share      Twit It Now!   

Tentang Kami

Selamat datang dan Terimakasih atas Kunjungan Anda. ManajemenForum.com merupakan web sites yang dibuat khusus menampilkan informasi pelatihan dan seminar PPM Manajemen ... Next

PROGRAM BARU PPM 2017

Advanced Competitive Marketing Strategy

Building Brand Equity & Positioning

Financial Aspecs on Feasibility Study

Supervisor and Manager Marketing Upgrowth Program

Informasi lebih detail dapat menghubungi Online marketing kami di 021 8798 4777